MISTERI KARIR! Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW. Sebagai Seorang Pedagang

Mazanom.com - Kisah Karir Teladan Nabi Muhammad SAW, Sebagai Seorang Pedagang. Setelah kematian kakeknya, Abdul Muttalib, Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, yang berprofesi sebagai pedagang sebagaimana kebanyakan pemimpin Quraisy lain. Sebab, berdagang merupakan pendapatan utama penduduk Kota Makkah.

Makkah

BAGIAN 3 KARIR PERDAGANGAN INTERNASIONAL NABI MUHAMMAD SAW


Setelah kematian kakeknya, Abdul Muttalib, Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, yang berprofesi sebagai pedagang sebagaimana kebanyakan pemimpin Quraisy lain. Sebab, berdagang merupakan pendapatan utama penduduk kota Makkah.

Muhammad baru berusia 12 tahun ketika pertama kali melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama pamannya. Kebetulan, Abu Thalib ibn Abdul Muttalib telah merencanakan melakukan perjalanan bersama sekelompok pedagang dalam ekspedisi dagang ke Syiria. Ketika semua perbekalan telah siap dan kelompok tersebut berkumpul untuk meninggalkan Makkah, Nab! yang waktu itu masih seorang pemuda kecil, merangkul pamannya dan memperlihatkan kaSih sayangnya yang sangat besar sehingga Abu Thalib merasa iba.

Beliau berkata: "Aku akan membawanya bersamaku, dan kami tidak akan pernah berpisah.” Selanjutnya, Muhammad diajak dalam peralanan ini. Di Busra (Syiria) ada seorang pendeta? bernama Bahira yang tinggal di sebuah biara. Pendeta ini sangat luas pengetahuannya mengenai kisah-kisah di kalangan orang orang Kristen. Sudah sejak lama biara tersebut selalu ditempati oleh seorang pendeta.


Di biara itu, terdapat sebuah manuskrip kuno yang tersimpan sebagai kepercayaan yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika rombongan Abu Thalib berkemah di dekat biara, pendeta itu keluar dan mengundang rombongan untuk menghadiri jamuan yang sudah dipersiapkan bagi mereka. Pada kesempatan-kesempatan terdahulu, para pedagang juga melewati biara ini, namun mereka belum pernah diundang makan malam bersama pendeta tersebut.

Bahira, yang sangat baik ini, telah mengatur sebuah pesta besar yang diperuntukkan bagi orang-orang ini. Sebab, dari dalam biara Bahira melihat serombongan kafilah yang singgah bersama seorang anak muda yang dilindungi oleh sekumpulan awan putih, mengesampingkan yang lainnya. Ia juga memperhatikan cabang-cabang pohon tempat anak muda itu beristirahat; seluruhnya merunduk, sehingga anak muda itu dapat berlindung.

Ketika melihat ini, Bahira keluar dari biaranya dan berkata: ”Saya telah menyediakan makanan untuk kalian wahai kaum Quraisy, dan saya ingin kalau semua datang, balk yang besar maupun kecil, termasuk para budak.” Mereka terkejut dan berkata: ”Wahai Bahira, apa yang telah terjadi padamu hari ini,“ Engkau tidak seperti biasanya melayani kami seperti ini, meskipun kami telah berkali-kali melewati biaramu, dengan sopan bahira menlawab: "kalian adalah tamuku hari ini, dan aku sangat senang sekali memulyakan kalian"

Berdoa Pada Alloh
Beberapa waktu kemudian, semuanya memenuhi undangan Bahira, tetapi pemuda Muhammad tinggal di belakang untuk menjaga barang dagangan. Bahira meneliti setiap orang dan berseru: Wahai Kaum Quraisy, tak satupun dari kalian yang tidak hadir dalam undanganku. "Ya," jawab mereka, "kecuali seorang anak laki laki yang tinggal di belakang bersama barang-barang bawaannya.

"Bahira pun merasa bingung dan berkata: "itu tidak adil Suruh ia masuk" Muhammad lalu dibawa masuk. Ketika Bahira melihatnya, ia mulai menatapnya dengan seksama. Selesai makan dan berpencar, Bahira mendekati anak laki-laki itu serta menanyakan beberapa pertanyaan. Dan akhirnya Bahira dapat melihat ”tanda-tanda Kenabian” yang terdapat di antara kedua bahunya. lni mirip seperti tanda dari sebuah kaca melengkung.

Lalu Bahira mendekati Abu Thalib dan berkata: ”Bagaimana hubunganmu dengan anak laki-laki ini?.” ”Ia adalah putraku,” kata Abu Thalib. ”Bukan,” kata Bahira, ”la bukan putramu. Bapaknya tidak mungkin masih hidup.” ”Memang,” kata Abu Thalib meminta maaf, ['Ia adalah anak saudaraku dan saudaraku itu telah meninggal.”
Nabi Muhammad SAW
Selanjutnya Bahira menasehati Abu Thalib, ”Kembalilah ke negeramu bersama keponakanmu itu dan jagalah ia dari orang orang Yahudi. Sebab, demi Tuhan,_ ]Ika mereka melihatnya serta tahu tentang ia sebagaimana yang aku ketahui,_pastilah mereka akan melakukan penganiayaan terhadapnya. Suatu masa depan yang sangat besar dibentangkan baginya. Maka segeralah kembali ke negerimu bersama anak muda Ini. (Ibn Hisyam, hal 115-7" lihat juga al-Tirmidzi dzl: 46: 3)

Abu Thalib merasa aga takut, dan membawa muhammad pulang kembali ke Makkah segera setelah ia selesai berdagang di Syiria. lnilah perjalanan pertama kal; Muhammad ke Syiria.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel